Dalam perjalanan hidup, terkadang seseorang perlu melangkah pergi agar bisa kembali dengan sudut pandang yang berbeda. Kutipan dari Terry Pratchett, “Coming back to where you started is not the same as never leaving,” mengingatkan kita bahwa proses tumbuh tidak selalu terjadi di tempat yang sama—sering kali ia muncul dari keberanian untuk mengambil jarak sejenak.
Bagi para pelajar, pengalaman “pergi” tidak selalu berarti bepergian jauh. Ia bisa berupa mengikuti kegiatan luar sekolah, menjelajahi lingkungan baru, bertemu orang-orang berbeda, atau terlibat dalam proyek dan tantangan yang sebelumnya belum pernah dijalani. Saat kembali, mereka datang dengan pemahaman yang lebih luas, cara pandang yang lebih matang, dan kepekaan baru terhadap hal-hal yang dahulu dianggap biasa.
Perjalanan—baik fisik maupun mental—memberikan ruang untuk berefleksi. Ketika siswa menghadapi dunia luar, mereka belajar tentang keberagaman, empati, dan kemampuan adaptasi. Mereka mulai memahami nilai dari asal mereka, rumah mereka, dan komunitas mereka dengan cara yang lebih dalam.
Sekolah mempunyai peran penting dalam menyediakan pengalaman semacam itu. Melalui kegiatan belajar di luar kelas, proyek sosial, eksplorasi alam, hingga program kunjungan dan magang, siswa dilatih untuk melihat dunia secara lebih utuh. Mereka belajar bahwa bertumbuh bukan hanya tentang menerima pengetahuan, tetapi juga tentang memperluas cakrawala.
Pada akhirnya, kembali ke titik awal setelah bepergian bukanlah sebuah pengulangan. Itu adalah bentuk baru dari diri yang telah berkembang. Dan dari sanalah perjalanan berikutnya akan dimulai.



