Pernah mendengar anak mengatakan, “Aku nggak bisa”, bahkan sebelum benar-benar mencoba?
Sering kali, kalimat tersebut bukan berarti anak benar-benar tidak mampu. Bisa jadi ada rasa takut salah, takut gagal, atau kebiasaan membandingkan dirinya dengan orang lain.
Sebagai orang tua, kita pun terkadang lebih mudah melihat apa yang masih kurang dari anak. Padahal, di balik setiap kekurangan, ada kekuatan yang mungkin belum ditemukan dan dikembangkan.
Lalu, Bagaimana Mengenali Kekuatan Anak?
Mulailah dengan mengamati, bukan hanya menilai. Perhatikan aktivitas yang membuat anak antusias, hal yang membuatnya bertahan ketika menghadapi kesulitan, serta situasi ketika ia terlihat percaya diri dan mampu memberikan kontribusi.
Berikan juga kesempatan kepada anak untuk mencoba berbagai pengalaman. Jangan terlalu cepat menentukan bahwa anak “tidak bisa” hanya karena hasil pertamanya belum sesuai harapan.
Yang tidak kalah penting, hargai proses, bukan hanya hasil. Ketika anak berani mencoba, menyelesaikan tantangan, atau belajar dari kesalahan, berikan apresiasi terhadap usaha tersebut.
Karena setiap anak memiliki kekuatan yang berbeda. Tugas kita bukan memaksa mereka menjadi seperti anak lain, tetapi membantu mereka mengenali siapa dirinya, menemukan kekuatannya, dan mengembangkannya dengan percaya diri.



