Semakin banyak anak dan remaja yang mulai tertarik berjualan, membuat produk sendiri, atau membuka jasa kecil-kecilan sejak masih sekolah. Ada yang menjual makanan buatan sendiri, membuat karya kerajinan, membuka jasa desain, hingga berjualan secara online. Minat seperti ini adalah hal positif yang perlu didukung, karena menunjukkan kreativitas, inisiatif, dan keberanian mencoba.
Peran orang tua sangat penting agar semangat berwirausaha anak bisa berkembang dengan sehat tanpa mengganggu pendidikan utamanya.
Menghargai Ide Anak, Sekecil Apa Pun
Langkah pertama yang paling berarti adalah mendengarkan dan menghargai ide anak. Meskipun terlihat sederhana atau belum matang, ide tersebut adalah bentuk keberanian dan kreativitas.
Alih-alih langsung mengkritik atau meremehkan, orang tua bisa bertanya dengan nada positif seperti, “Ceritakan rencananya,” atau “Menurut kamu, siapa yang akan suka produk ini?” Dukungan emosional seperti ini membuat anak merasa dipercaya dan lebih percaya diri mengembangkan idenya.
Menanamkan bahwa Sekolah Tetap Prioritas
Mendukung usaha anak bukan berarti membiarkan sekolah terabaikan. Justru di sinilah orang tua bisa membantu anak belajar mengatur waktu dan tanggung jawab.
Anak perlu memahami bahwa usaha yang dijalankan adalah sarana belajar, bukan pengganti pendidikan. Dengan bimbingan yang tepat, mereka belajar menyeimbangkan antara tugas sekolah, waktu istirahat, dan kegiatan usahanya.
Mengajarkan Proses, Bukan Hanya Hasil Uang
Sering kali anak semangat berbisnis karena melihat hasil penjualan atau keuntungan. Orang tua bisa membantu memperluas pemahaman anak bahwa yang paling penting adalah proses belajar di baliknya.
Dari usaha kecil, anak belajar:
- Merencanakan sesuatu dari awal
- Bertanggung jawab pada apa yang mereka buat
- Berkomunikasi dengan orang lain
- Menghadapi komplain atau kritik
- Tidak mudah menyerah saat penjualan sepi
Nilai-nilai inilah yang akan sangat berguna bagi masa depan mereka, terlepas dari besar kecilnya usaha tersebut.
Membantu Anak Berpikir Realistis
Dukungan juga berarti membantu anak melihat kenyataan dengan bijak. Tidak semua ide langsung berhasil, dan itu wajar. Saat usaha anak sepi pembeli atau mengalami kendala, orang tua bisa mengajak berdiskusi: apa yang bisa diperbaiki, apa yang sudah bagus, dan apa yang bisa dicoba berikutnya.
Pendekatan ini melatih anak untuk berpikir solutif, bukan menyalahkan keadaan atau menyerah begitu saja.
Memberi Batasan yang Sehat
Orang tua tetap perlu memberi batasan agar anak tidak kelelahan atau terlalu tertekan. Pastikan usaha yang dijalankan sesuai usia, tidak mengganggu kesehatan, dan tidak membuat anak kehilangan waktu bermain serta bersosialisasi.
Bisnis di usia sekolah sebaiknya menjadi media belajar yang menyenangkan, bukan beban tambahan.
Menjadi Pendukung, Bukan Pengambil Alih
Kadang karena ingin membantu, orang tua justru mengambil alih usaha anak. Padahal, yang paling berharga adalah pengalaman anak itu sendiri dalam menjalankan prosesnya.
Orang tua cukup mendampingi, memberi arahan saat dibutuhkan, dan membantu saat ada hal yang benar-benar belum bisa dilakukan anak. Biarkan mereka tetap menjadi pelaku utama dari ide dan usahanya.
Bekal Berharga untuk Masa Depan
Ketika orang tua mendukung anak berwirausaha sejak sekolah dengan cara yang tepat, anak tidak hanya belajar mencari uang, tetapi juga belajar tanggung jawab, ketekunan, kreativitas, dan keberanian mengambil inisiatif.
Pengalaman ini akan menjadi bekal berharga saat mereka dewasa nanti — apa pun profesi yang mereka pilih. Karena pada akhirnya, yang paling penting bukan seberapa besar usaha mereka saat sekolah, tetapi seberapa besar pola pikir dan karakter yang tumbuh dari proses tersebut.



