Mendampingi remaja memang bukan perkara instan. Banyak orang tua dan pendidik punya harapan besar, tapi sering kali terbentur satu hal yang sama: anak terlihat punya potensi, tapi seperti belum benar-benar “ngeh” dengan dirinya sendiri.
Keluhan yang sering terdengar pun hampir serupa.
“Anaknya sebenarnya bisa, tapi kayak nggak sadar sama kemampuannya.”
“Kenapa ya, setiap yang orang tua arahkan malah ditentang?”
“Kita dorong anak buat masa depan dia, bukan buat ambisi kita, tapi kok pesannya nggak sampai?”
Ternyata, kunci mendampingi pemuda bukan soal menekan, menuntut, atau sekadar memberi nasihat. Prosesnya lebih dalam dari itu. Harus pelan, harus sabar, dan yang paling penting: bangun koneksi dulu sebelum koreksi.
Relasi Dulu, Baru Arahan
Saat anak merasa didengar dan dihargai, barulah mereka mulai membuka diri. Dari situlah pelan-pelan tumbuh kepercayaan, lalu muncul keberanian untuk mencoba. Bukan karena disuruh, tapi karena mereka merasa aman untuk bertumbuh.
Pendekatan yang menekankan penguatan soft skill, daya juang (grit), mental pantang menyerah, serta penggalian potensi diri, ternyata membawa perubahan yang berbeda. Anak-anak tidak lagi bergerak karena takut dimarahi atau dipaksa, tapi karena mereka mulai mengenal siapa diri mereka sebenarnya.
Ketika mereka diberi ruang untuk mengambil peran, sesuatu yang menarik terjadi. Mereka jadi lebih bertanggung jawab. Lebih berani mengambil keputusan. Lebih siap menghadapi risiko.
Mereka tidak perlu terus-menerus diingatkan untuk disiplin ketika merasa dipercaya memimpin dirinya sendiri. Mereka tidak lagi sekadar patuh karena takut, tapi karena sudah tumbuh rasa hormat.
Dari Zona Luka ke Zona Tumbuh
Banyak remaja menyimpan keraguan, luka batin, atau rasa tidak percaya diri yang sering tidak terlihat dari luar. Saat mereka didekati dengan empati, dirangkul, dan dibantu melihat nilai dirinya, perlahan mereka keluar dari “zona terluka”.
Ketika anak merasa dirinya berharga, mereka mulai berani melangkah. Dari situ muncul dorongan dari dalam diri sendiri — bukan paksaan dari luar. Mereka mulai bertanya, “Aku mau ke mana ya?” dan lebih penting lagi, “Apa potensi terbaikku?”
Di titik itulah mereka mulai “nge-flow” dengan dirinya sendiri. Nge-flow dengan minatnya. Nge-flow dengan aktivitas yang membuatnya hidup. Nge-flow dengan keberanian mengambil keputusan dan mengelola risiko.
Belajar Lewat Pengalaman, Bukan Hanya Nasihat
Proses ini tidak hanya terjadi di ruang kelas atau lewat sesi diskusi, tetapi juga melalui pengalaman langsung yang membangun kebersamaan dan ketahanan diri.
Salah satu momen berkesan hadir dalam kegiatan touring ke Ciwidey. Perjalanan ini bukan sekadar jalan-jalan, tapi menjadi ruang belajar kehidupan. Dalam perjalanan, anak-anak belajar kerja sama, saling menjaga, menghadapi kondisi tak terduga, serta mengambil keputusan di situasi nyata.
Di sanalah terlihat bagaimana mereka mulai mengambil peran secara alami. Ada yang sigap membantu teman, ada yang berani memimpin kelompok kecil, ada yang belajar mengalah demi kebersamaan. Nilai-nilai tanggung jawab, keberanian, dan kepedulian tumbuh lewat pengalaman, bukan ceramah.
Ketika Anak Diberi Kesempatan Menjadi Pemimpin Diri Sendiri
Pada akhirnya, mendidik pemuda bukan tentang membuat mereka selalu menurut, tetapi membantu mereka menemukan alasan untuk bergerak dari dalam diri. Saat mereka sudah mengenal potensinya, merasa dihargai, dan dipercaya, mereka akan melaju dengan kesadaran sendiri.
Mereka tidak perlu terus didorong dari belakang. Mereka akan berjalan, bahkan berlari, menuju arah hidupnya dengan potensi emas yang sudah ada dalam dirinya.
Dan di situlah kita sadar — tugas kita bukan mengendalikan langkah mereka, tapi menemani proses mereka menemukan jalannya sendiri.



